Pengadaan Alat

Kebutuhan rumah sakit.

Ongkir Gratis

Jakarta, Tangerang, Banten.

Konsultasi

Pelayanan konsultasi.

Total Rp 0
Total Rp 0
Show Cart

Menakar Nasib Alat Tes COVID-19 Indonesia yang Tergerus Alkes Impor

Pandemi Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2 masih berlangsung sejak pertama kali mewabah di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019. Presiden Joko Widodo menilai pandemi ini merupakan momentum bagi Indonesia bangkit di bidang sains dan teknologi, khususnya di bidang alat-alat kesehatan (alkes).

Sejak peringatan itu disampaikan, puluhan inovasi untuk mendukung penanggulangan pandemi Covid-19 tercipta. Berdasarkan data Kemenristek/ BRIN, sekitar 69 produk inovasi telah tercipta.

Misalnya, Real Time PCR Test Kit BioCov-19, Rapid Diagnostic Test RI-GHA, Mobile Laboratory BSL-2, Convalescence Serum, GeNose, Autonomous UVC Mobile Robot, Plasmid Eijkman Control for COVID-19 (pECoC-19), Robot RAISA, Emergency Ventilator, hingga GLP-HFNC-01 (High Flow Nasal Cannula).

Namun, seluruh produk karya anak bangsa itu nampaknya belum berperan bagi penanggulangan Covid-19. Hingga kini, seluruh produk itu belum benar-benar digunakan pemerintah dan diproduksi.

Salah satu produk yang belum disentuh pemerintah adalah RT-PCR Test Kit BioCov-19 untuk mendeteksi Covid-19 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). BPPT bahkan menyindir Gugus Tugas dan Kemenkes masih menggunakan produk yang berkaitan dengan Covid-19 dari luar negeri alias impor.

Padahal status produk itu sudah memiliki izin edar Kemenkes RI AKD 20303020600 (5 Mei 2020). Sudah disalurkan ke beberapa RS dan Lab Uji Rujukan dan telah selesai diproduksi 100.000 PCR test kit pada akhir Mei 2020.

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyampaikan peerintah perlu memperkuat dan membangun riset di dalam negeri, khususnya di bidang kesehatan. Dia menyebut hal itu sangat penting agar Indonesia untuk mengahdapi pandemi di kemudian hari.

"Kita harus perkuat dan membangun riset produksi vaksin, obat, dan alat kesehatan dalam negeri sebagai modal ketahanan negara dalam sektor kesehatan. Manfaatnya antara lain saat terjadi bencana dan pandemi," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (30/9).

Dicky berkata kemandirian teknologi kesehatan bisa membuat Indonesia tidak bergantung dengan produk luar negeri jika terjadi pandemi seperti saat ini. Sebab dia berkata semua negara akan sibuk dengan kepentingan dan mengutamakan produk untuk kepentingan dalam negerinya.

Misalnya, dia menyebut dunia kekurangan stop masker dan alat pelindung diri karena China sebagai importir utama berhenti melakukan ekspor karena terdampak pandemi.

"Bagaimana dunia kekurangan reagen PCR karena Amerika mengutamakan produknya untuk dalam negeri," ujarnya.

Di sisi lain, Dicky mengingatkan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menciptakan teknologi di bidang kesehatan. Hal itu, kata dia terlihat dari berbagai alat Covid-19 yang saat ini sedang dikembangkan seperti rapid test antigen hingga RT LAMP.

"Yang penting kebijakan pusatnya yang lebih mendorong inovasi riset dalam negeri," ujar Dicky.

Dicky menambahkan kemandirian Indonesia dalam menciptakan berbagai alat kesehatan, misalnya pendeteksi Covid-19 membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Namun, kedua hal itu akan menguntungkan dan membangun ketahanan negara ke depan.

Staf Khusus Menristek/ Kepala BRIN, Ekoputro Adiyajanto menegaskan pihaknya senantiasa responsif dalam upaya menghasilkan produk riset dan inovasi untuk deteksi COVID-19. Saat ini, dia mengklaim sudah ada dua produk deteksi COVID-19 yang telah digunakan di masyarakat karena sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes).

Selain itu, tiga produk deteksi COVID-19 sedang dikembangkan dengan bantuan mitra-mitra perguruan tinggi maupun industri Kemenristek/BRIN.

"Kemenristek/BRIN senantiasa responsif dalam upaya menghasilkan produk riset dan inovasi untuk deteksi COVID-19," ujar Eko kepada CNNIndonesia.com.

Adapun dua produk yang sudah digunakan masyarakat adalah  Rapid Diagnostic Test Kit (RDT Kit) yang dikembangkan oleh BPPT, UGM, Unair, Universitas Mataram, PT Hepatika Mataram, PT Prodia Diagnostic Line, dan Kementerian Kesehatan. RDT Kit itu telah diuji validasi dan memiliki sensitivitas hingga 96,8 persen.

Kemudian, PCR Test Kit yang dikembangkan oleh BPPT, Biofarma, Nusantics, UI, dan Kementerian Kesehatan. PCR Test kit ini memiliki sensitivitas 100 persen terhadap SARS-CoV-2 dengan menggunakan Open System, bisa digunakan di berbagai alat RT PCR atau Real Time Polymerase Chain Reaction.

Sedangkan yang sedang dikembangkan lebih lanjut adalah GeNose, RT Lamp, dan alat tes berbasis antigen yang menggunakan microchip.

Khusus yang sedang dikembangkan, produk-produk ini akan melewati serangkaian tahapan uji klinik di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) untuk kemudian mendapatkan izin edar di masyarakat.

"Kemenristek/BRIN menjalin kemitraan dengan dunia usaha yang turut menjadi distributor dalam mempromosikan dan mendistribusikan produk-produk deteksi COVID-19," ujarnya.
Sindir Pemerintah yang Masih Impor Alat Covid-19

BPPT menyatakan telah menyelesaikan pengembangan RT-PCR Test Kit berbasis strain virus corona SARS-CoV-2 dari rumah sakit di Indonesia. Namun, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan perangkat itu masih menunggu pesanan dari pemerintah.

"Untuk penggunaannya masih menunggu pesanan dari Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan," ujar Hammam kepada CNNIndonesia.com, Senin (28/9).

Hammam menuturkan Gugus Tugas dan Kemenkes belum melakukan pemesanan PCR test kit berbasis virus corona SARS-CoV-2 Indonesia secara resmi kepada BPPT. Dia menyebut situasi akibat Kemenkes dan Gugus Tugas masih menggunakan produk impor.

"Kemenkes maupun gugus tugas masih menggunakan produk impor," ujar.

Hammam menyampaikan BPPT melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19 (TFRIC-19) menggunakan strain virus corona SARS-CoV-2 dari rumah sakit di Indonesia dalam membuat RT-PCR Test Kit.
Harga Alat Tes Lokal Lebih Murah

Sebelumnya, Hammam menuturkan ada dua alat pengetesan Covid-19 buatan Indonesia, yakni rapid test bernama RI-GHA Covid-19 dan PCR kit dijual dengan harga terjangkau. Hammam menyebut RI-GHA Covid-19 yang sudah mendapat izin edar dari Kemenkes dijual dengan harga Rp75 ribu.

Sedangkan BioCov-19, harga jual satu box BioCov-19 berisi 30 kit berkisar Rp9,75 juta.

Add comment


Security code Refresh

New Arrivals

Sign up for newsletter

Dapatkan informasi terbaru seputar alat kesehatan.

Store Information

Autodoc adalah distributor supplier alat kesehatan atau alkes yang melayani market di Jakarta, Tangerang, Banten, dan sekitarnya. Autodoc adalah supplier alat kesehatan yang terlengkap dan terpercaya di Indonesia. Kami menyediakan layanan konsultasi dan juga perawatan peralatan dari setiap alat kesehatan yang kami sediakan untuk memaksimalkan anda dalam pelayanan kesehatan ke masyarakat Indonesia.

Offcanvas Menu